Bapakku anjing! dan aku bukan soleh.


Namaku Soleh, dan aku malu dengan namaku ini. Kenapa Ibuku tercinta, dan Bapakku yang kelakuannya seperti anjing memberiku nama Soleh. Kenapa tidak  Anjing  Junior saja sekalian, seperti  nama Bapakku. Aku dilahirkan dalam keluarga yang dulu  katanya bahagia.

Dulu, ketika Bapakku masih sebagai sales onderdil motor, dia adalah Bapak yang sempurna, malaikat penjaga kami, dan namanya masih Sulaeman. 

Sejak usahanya maju pesat, sampai akhirnya Bapakku memiliki perusahan besar, dia berubah menjadi Setan yang menjirim manusia. Namanyapun berganti, menjadi Anjing!.
Suatu penganugerahan nama yang  kusematkan untuk Bapakku, Sulaeman yang telah mati.

Aku malu dengan namaku, impian ibuku agar aku menjadi anak yang soleh tidak tercapai. Aku terpaksa menjadi anak yang durhaka pada Ibuku. Semua karena Bapak, dia yang memulai, kenapa dia siksa Ibuku , kenapa dia pukuli wajah, tubuh dan batin Ibuku.

Hampir setiap hari tubuh ibuku biru, tak pernah pula mulus wajahnya itu, walau telah di taploki bedak dan kosmetik tebal, tetap saja biru biru. Selalu lebam, kadang menghitam. 

Bukan sesekali, ikat pinggang, dan kepalan tangan laki laki yang menjadi suaminya itu mendarat juga di tubuhku. Aku benci Bapakku.  Aku berharap dia bukan Bapak kandungku.

 Pernah suatu ketika, Ibuku menangis meraung raung, tatkala Bapakku pulang dalam keadaan mabuk, sambil menggandeng seorang perempuan. Ibuku menghiba, memohon agar Bapak tidak melakukan dosa, setidaknya jangan di rumah ini.

Astaghfirullah … Pak, apa yang Bapak lakukan? Ingat Allah Pak, Istigfar !, Pak, pak …”

Jangankan mau mendengar, melirik istrinya saja tidak, dianggap benda mati mungkin ibuku ini. Bapakku masuk kedalam kamar, tak lama kemudian  dia keluar, dan Ibuku habis dihajarnya. Ingin aku melawan Bapakku saat itu, tapi Ibuku melarang, aku tak mau mendurhakai Ibuku.

Aku harus menelan mentah mentah, dengan apa yang dilakukan Bapakku saat itu. Dia pukuli wanita yang semestinya dia sayang, dia tampar wajah perempuan, yang seharusnya dia lindungi.

Tak puas dengan itu, dia lemparkan gelas tepat pada kepala Ibuku, hingga darah keluar menetes dari kepala Ibuku tersayang. Setelah orgasme dengan menyiksa Ibuku, Bapakku masuk  kembali ke dalam kamar,  entah apa yang dilakukannya  bersama perempuan itu.

Bu, kita laporkan saja kelakuan bapak pada polisi, ini sudah kelewatan Bu!,”  bujukku pada Ibu.

Ibuku menatap lirih, matanya lebam, namun sempat juga memberikan senyuman.

Jangan sayang, bagaimanapun, dia Bapakmu, Ini ujian untuk kita, agar kita dapat bersabar. Konsentrasi saja pada kuliahmu nak, kelak, jika kamu sudah menjadi orang, kamu bisa tinggalkan penderitaan ini, jangan lupa kamu harus tetap menjadi anak soleh kebanggaan Ibu”.

Ah, kecewa sekali aku dengan kata kata Ibu, bukannya mendengarkan usulanku, Ibuku malah mengingatkan aku pada kewajibanku. Mau tak mau, ku terima juga nasihat Ibuku, kelak, aku akan membawa pergi Ibuku menjauh dari anjing itu. Begitu tekadku.

Waktu terus berjalan, dan kelakuan si anjing tidak berubah, setiap hari  dia menggonggong, dia melolong, terkadang menggigit kami. Urat malu si anjing kini telah putus, dia bercinta dengan sesama anjing di depan mata kami.

Sampai  akhirnya, satu, dua, tiga, empat  dan entah berapa anjing diluar sana yang dia kawini.  Ah, lagi lagi Ibuku masih mau merawat anjing ini. Ibuku sayang, Ibuku malang, dia Ibuku yang sabar, seorang istri yang terlalu setia dan berbakti.

Bu, sini !,” terdengar perintah Bapakku dari luar kamar.

Ya Pak, sebentar, Ibu melipat dulu sajadah,” jawab Ibuku .

Argh, kalau Bapak suruh kamu kesini, cepat kamu kesini Bu. Jangan banyak alasan, mulai berani melawan kamu ya Bu?,” nah,anjing itu mulai menggonggong.

Aku keluar dari kamar, anjing itu melirik padaku, sejurus kemudian, matanya ditujukan pada televisi kembali. Acuh dan dingin. Ibuku menghampiri, kemudian duduk berhadapan dengan dengannya. Apa sih yang mau dibicarakan si anjing itu. Keingintahuanku, membawaku untuk tetap duduk di kamar Ibuku ,pintunya kubiarkan tetap terbuka.

Bu, Bapak sekarang mau mengawini Si Rani, dia sudah hamil empat bulan, kalau tidak dikawini, dia mau melaporkan aku ke polisi. Mau tidak mau kamu harus menerima ini. Satu lagi, tolong urus segala keperluan  untuk  hantaran nanti, aku tidak mau keluarga Rani kecewa”.

 Setelah selesai bicara, dia beranjak pergi, meninggalkan Ibuku dalam penderitaan panjang. Anjing, enteng benar dia bicara seperti itu.

Kupacu motorku menuju rumah perempuan itu, satu tekad, member I pelajaran padanya. Kudapatkan alamat Rani dari salah satu temanku yang sengaja ku bayar untuk membuntuti Bapakku. Hemh, sepi, kebetulan sekali.

Kupanjati pagar , mengendap ngendap menuju jendela belakang. Sepi, tak ada suara berarti, selain suara televisi yang habis jam tayangnya. Kucongkel jendela perlahan, tak tak lama, aku sudah berada di dalam rumah Rani, hanya ada satu kamar, dan itupun tak terkunci.

Pintu kudorong, terlihat sesosok tubuh perempuan sintal mengenakan baju tidur yang tersingkap sebatas paha. Putih dan mulus, membuat sifat liar kelaki lakianku bangun seketika. Entah setan apa yang ada dalam pikiranku saat itu, aku perkosa Rani malam itu juga.

Dewi, Tiara, Intan, dan entah siapa namanya perempuan simpanan Bapakku yang satu lagi itu, semuanya telah ku perkosa. Tak ada yang berani melaporkan aku setelah aku ancam mereka.

Sampai suatu hari, Bapakku pulang. Tanpa ba bi bu, dia seret Ibuku yang sedang menunaikan sholat, mukena yang dipakai Ibuku lepas, Bapakku menjambak rambut ibuku, kepalan tangannya bertubi tubi hinggap pada wajah Ibuku. Buk, buk, buk,  Ibuku menjerit jerit meminta ampun.

Ya Allah, Pak, ampun Pak, ampun … “

 Bukannya berhenti, Bapakku membuka ikat pinggangnya dan mencambuk tubuh Ibuku. Suara kibasan dan sabitan  ikat pinggang itu mengiris hatiku.  
Darahku mendidih melihat Ibuku disiksa, telingaku sakit mendengar lengkingan kesakitan Ibuku .

Ampun Pak, Ampun, apa salah saya Pak? sudah, aku minta ampuuunn … “.

Dasar perempuan goblok, tidak becus mendidik anak, tahu tidak kamu kalau anakmu itu pemerkosa?, mana dia sekarang? Soleh, Soleh, kasini kamu!”. 

Cukup Pak, cukup, aku akan laporkan kelakuan Bapak pada polisi,” teriakku sambil menghampiri nya.

Apa kamu? mau melawan Bapak Soleh? Sekarang kamu berani melawan Bapakmu ini? Kemana saja kamu selama ini? Dasar banci,” matanya memandang lurus, tajam, seperti siap menerkam aku.

Bertambah panas saja telingaku ini, mendengar dia menyebut aku banci. Jika aku banci, aku mungkin tidak akan mampu perkosa anjing anjing simpanannya. Sekilas, kulihat Ibuku merayap menjauhi Bapakku, sayang, anjing itu tahu buruannya berusaha kabur.

Bapakku, kembali menyeret Ibuku, dan menghujaminya dengan pukulan pukulan telak. Seperti petinju yang melepaskan amarahnya pada samsak. Pukul sana, pukul sini, tonjok sana, tonjok sini.

Ibu, Aku tidak mau diam, aku mau mengutarakan isi hatiku. Ma’afkan aku Ibu.  Kusambar  obeng yang kebetulan ada di atas meja, dan, cras …. aku tusukkan pada perut Bapakku.

Aaaarrrrggghhhh …… kekkh,,, kau…. anjing  kau, kau …. ,“ entah apa yang ingin dikatakan anjing itu, 
kalimat yang tak sempat  tuntas yang keluar dari mulutnya, matanya melotot, tangannya memegang obeng yang masih tertancap di perutnya.

Tidaaaaaaakkkk …., “ jerit Ibuku menyadarkan aku.

Darah segar semburat dari perut Bapakku, Ibuku menangis, meraung, memeluk jasad Bapakku. 

Ma’afkan aku Ibu, aku tidak bisa menjadi anak yang soleh, seperti harapanmu. Anehnya, aku juga merasa orgasme setelah melihat anjing itu mati.