Menangis, dan menangis, sementara kalimat kalimat tahlil masih bergema di rumah Novy. Hari ini, dua November , tujuh hari sejak kepergian suami Novy ke pangkuan-Nya. Novy masih menangis.
Meletusnya Gunung Merapi, telah membawa serta satu orang lelaki yang amat sangat dia cintai. Yah, Wandi adalah salah seorang korban Merapi, Jogya yang meletus tanggal dua puluh Oktober kemarin.
Sebagai seorang wartawan Televisi, ketika Wandi mendengar kabar bahwa Gunung Merapi dinaikkan statusnya menjadi waspada, bukannya diam dan cari aman, dia malah ingin pergi meliput kesana. Waktu itu, Novy berusaha mencegahnya, tapi keinginan Wandi terlalu kuat untuk dicegah, Wandi teguh pada pendiriannya, katanya, berita ini akan menjadi berita yang paling utama.
Novy hanya dapat memandang dari batas pagar rumah ketika Wandi berangkat menuju bandara dengan Taxi. Wanti menyesal, kenapa dia tidak mengantar suaminya sampai bandara. Selang beberapa hari, Wandi menelpon, katanya keadaan di sana baik baik saja.
Novy terus memantau setiap berita di TV, di Koran, bahkan internet yang beritanya selalu cepat. Ternyata, keadaan disana makin membahayakan. Namun tetap, menurut Wandi semua masih dalam keadaan aman dan terkendali.
Ah, kenapa harus keras kepala sayang. Sayang, kemarin temanmu datang kemari, dia memberikan kaset hasil rekamanmu terakhir, yang katanya di temukan dalam keadaan utuh, bersama kamera kesayanganmu, ratap hati Novy.
Belum aku lihat sayang, karena aku tidak mau melihat bagaimana menderitanya kamu, dan bagaimana dasyatnya kejadian waktu itu. Melihat berita dan tayangan di televisi saja aku sudah menangis, apalagi hasil rekaman kameramu sendiri? aku tidak mau, Novy berusaha menolak keinginan hatinya.
Keluarga berusaha menghibur perempuan itu, semua orang berusaha membuat dia tidak larut dalam kesedihan mendalam. Tapi Novy tidak bisa, dia terlalu kehilangan Wandi. Teman teman PERS Wandi datang, mereka menangis, karena kehilangan seorang wartawan dan seorang sahabat yang sangat mereka banggakan. Apalagi Novy? Kembalilah sayang, temani hari hariku lagi, aku membutuhkanmu, begitu jerit dan harap hati Novy saat ini.
Katamu, kau akan memberikan aku kado ulang tahun besok, lalu kenapa kado ini yang aku terima? Sebuah kaset rekaman terakhir darimu. Novy beranjak menuju kamarnya, kamar yang kini terasa hampa dan begitu sunyi karena telah kehilangan satu penghuninya.
Diluar kamar, keluarga, kerabat, dan tetangga masih mendawaikan alunan surat Yasin, terdengar begitu mengiris hati. Semua larut dalam kesedihan mendalam, bahkan seluruh rakyat Indonesia, turut menangis untuk Gunung Merapi.
Novy merebahkan tubuhnya, menatap langit langit kamar yang bercat putih, bayangan Wandi tergambar disana, dia memberikan senyuman termanis yang membuat Novy ingin melihat hasil rekaman terakhir suaminya.
Saat memasang kaset rekaman video, Novy menghela napas panjang sangat dalam sejenak, dia menguatkan hatinya untuk melihat detik detik terakhir suaminya. Sangat tegang.
Tanggal duapuluh enam, kelihatannya sore hari, rekaman suaminya sedang berkumpul dengan beberapa temannya, bercanda, sambil minum kopi. Wandi mengenakan kemeja bercorak kotak, kemeja pemberian dari Novy sebulan lalu, kemeja yang dilirik Wandi ketika mereka berjalan jalan di Mall.
Rekaman kemudian berhenti, berganti dengan rekaman selanjutnya, Wandi sedang berada di salah satu ruangan kantor yang entah itu kantor apa.
“Halo sayang, apa kabar hari ini, do’akan aku ya sayang, hari ini, gunung Merapi centil, dia genit, menggeliat geliat dia cari perhatian kita sayang. Oh yah, ulang tahun kamu tahun ini, aku pasti membawa kado termanis untukmu. Tunggu aku pulang ya sayang, jangan nangis, malu udah besar, hahahah …,” begitu kata Wandi dalam rekamannya.
Novy tak bisa menahan air matanya, hatinya begitu terasa perih. Kemudian, ketegangan datang tiba tiba, ketika dalam rekaman terlihat, Wandi dengan tiba tiba meloncat dari kursinya, dia melihat ke luar jendela, wajah Wandi mendadak terlihat tegang dan sesaat kemudian, Wandi tergesa mendekati kamera lagi.”Udah dulu ya sayang, miss you”. Rekaman tiba tiba terhenti.
Berubah dengan rekaman yang memperlihatkan hiruk pikuk orang orang berlarian, sepeda motor dan kendaraan roda empat yang tidak berhenti membunyikan klakson. Sirine tanda bahaya meraung raung, menambah ketegangan suasana. Warga berhamburan keluar, membawa apa yang sekira bisa dibawa dan di selamatkan.
Seorang ibu yang menggendong anaknya, menangis sambil tergesa gesa berjalan, nenek tua yang terpogoh pogoh juga terekam disana, semuanya berwajah kaku, penuh ketakutan. apalagi tidak ada penerangan, karena listrik dan lampu terlihat mati, satu satunya penerangan adalah lampu kamera Wandi.
“Ayo bu cepat cepat, naik ke mobil, keadaan sudah tidak aman, Pak, tolong bantu ibu tua itu, ayo pak, pak, cepat ke tempat pengungsian, selamatkan semua Pak, ke Kepuharjo saja,” terdengar jelas suara Wandi memperingatkan warga disitu. Hanya suaranya.
“Bapak sendiri, ora naek toh? Iki wis bahaya sanget Pak, wedhus gembel wis semburat, ayo Pak ikut kami”. tanya dan ajakan supir yang membawa para warga desa lereng Merapi itu.
“Iya, nanti saya pasti turun, sekarang cepat saja bawa warga ini ke pengungsian Pak, saya masih harus mengambil gambar dan berita,” tolak Wandi.
“Hati hati ya Pak,” jawab supir sambil menancap gas mobil, membawa warga pergi dari situ.
Dalam rekaman terlihat jelas kepanikan warga, sesekali, kamera tertuju pada puncak gunung Merapi, terlihat kepulan asap yang menjulang tinggi, mungkin itulah yang dinamakan wedhus gembel, semburan awan panas yang bersuhu dapat hingga 600 derajat celcius.
Siapapun yang berada dalam kepungan asap wedhus gembel, tentu tidak bisa lari dari kematian yang mengejar, bahkan menurut berita di tivi kuncennyapun sendiri tewas dalam kejadian itu.
Menurut para ahli, siapapun, walau pada saat letusan pertama, masih mempunyai tenaga untuk menyelamatkan diri, maka pada letusan yang berikutnya, tenaganya akan berkurang dan habis karena saking panasnya suhu dan abu vulkanik.
“Ya allah,Wan, Wan, kita terlambat, wedhus gembel sudah kearah kita, ayo masuk ke rumah Pak Jaya Wan,” suara iman, sahabat dan partner kerja Wandi terdengar jelas.
“Astagfirulloh, ayo man!,” kamera terlihat bergoyang goyang, mungkin saat itu Wandi sedang berlari, masuk kedalam salah satu rumah yang ada disitu.
“Bagaimana ini Wan, kita terjebak disini? Ya Allah, bagaimana ini?, Allohu Akbar, allohu Akbar,” Iman terlihat jelas panik, kamera mungkin disimpan Wandi diatas sebuah lemari atau meja, karena sekarang jelas terlihat Wandi dan Iman hilir mudik, melihat keluar jendela, terlihat kepulan asap memasuki sela sela jendela, dan ventilasi rumah.
“Pasrah saja Man, pasrah, kita pasrah kepada kehendak yang Maha Kuasa,” Wandi menangis sambil memeluk Iman, mereka saling berpeluk erat, sangat erat. Mereka berdua mulai terbatuk batuk, mungkin saking pengap dan bau yang menusuk yang di timbulkan dari bau belerang.
Keadaan yang terlihat dalam gambar mulai kurang jelas, karena tertutup oleh pekatnya asap. Kemudian, tak ada lagi gerakan yang terlihat, tak ada lagi suara yang terdengar. semua diam, hanya dentuman, dan, gambar yang terlihat bergoyang.
Novy, menunggu gambar berikutnya, tidak ada, hanya garis garis hitam dan runyam terlihat dari monitor televisinya. mungkin itulah akhir dari segalanya. Akhir dari kebahagiaan yang baru di rasakan beberapa bulan ini.
Belum genap satu tahun mereka menikah, dan Novy harus kehilangan Wandi, ayah dari jabang bayinya. Tangis Novy tak terbendung lagi, dia menjerit, memanggil nama Wandi.
Keluarga berhamburan masuk ke dalam kamar, dan Novy, tergolek tak sadarkan diri.