Showing posts with label Fiksimini Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Fiksimini Indonesia. Show all posts
= Pikiranpun turut Bicara=
Perempuan berbaju merah ini berurai air mata. Kasihan. Dan lelaki inipun tak henti-henti memohon maaf. "Maafkan aku! Aku milikmu, aku janji," ujar lelaki ini. Tangan lelaki ini menggenggam erat tangan perempuan berbaju merah itu. "Aku hanya milikmu, tak akan pernah lagi ada wanita lain, selain dirimu. Aku tak bohong, sungguh! Tolong, maafkan aku. Aku kembali, kumohon, terima aku. Aku berjanji, takkan ada wanita lain di hatiku." "Bohong! Lelaki ini berbohong! Ini buktinya, saat dia berjanjipun aku masih ada dalam pikirannya."
SETENGAH MALAM
Ijah bermimpi. Mimpi Ijah menjadi Nyonya.
"Walau setengah malam, Tuan," dia mengigau saat Si Tuan beranjak menuju kamarnya.
"Walau setengah malam, Tuan," dia mengigau saat Si Tuan beranjak menuju kamarnya.
Mengejar Deadline
Begini, Pak! Sebenarnya kemarin di kepala saya sudah banyak bahan berita untuk ditulis. Tapi, kemana larinya kepala saya?
KEMBANG JALANAN
Si Mawar, Melati, dan Si Ros, hampir setiap malam dihisap kumbang. Kasihan.... Tak lama lagi pasti mereka layu.
SETIA
Laut Pasang. Purnama menggantung. Di ujung perahu, duduk kupeluk lutut nikmati desiran ombak yang tersapu angin. Si cantik datang temani aku. Hmmh..., begitu setia dia. Padahal aku yang membunuhnya dua tahun lalu.
Marni
Laut Pasang. Bulan Purnama menggantung. Aku sedang duduk memeluk lutut menikmati desiran angin di ujung perahu saat Marni datang. Dialah orang yang sedari dulu menemaniku melaut, yang aku bunuh dua tahun lalu.
Pikiran melayang, diombang-ambing hingga sampailah pada kejadian itu. ”Man…, kalau kau tak segera nikahi aku, aku akan bicara pada istrimu tentang kehamilanku”
Itulah awal dari semuanya. Aku langsung marah dan emosi saat Marni yang aku cintai bicara seolah mengancam aku. Kami bertengkar seru. Dia tak mau kalah, dia melawan sengit. Dan aku kehilangan akal sehatku.
Kepalaku seakan mau buncah, suara Marni memekakkan telinga. Saat itu aku hanya ingin satu agar Marni berhenti teriak dan melawan padaku. Dan Marnipun benar-benar terdiam setelah aku memukulkan sebuah balok kayu dikepalanya.
Malam ini, Marni seperti biasa datang untuk temani aku. Hanya saja dia terlihat beda dari biasanya. Penampilannya sungguh beda kali ini. Jika hari-hari kemarin, dia berkebaya dan berkain samping.
Malam ini, dia mengenakan baju serba putih. Wajahnya pucat dan bersedih.
“Man…, ini adalah pertemuan kita yang terakhir,” ucap Marni saat aku mencumbunya. “Man…, kamu harus merelakan aku…” katanya lagi saat aku menindihnya. “Man…..” desahnya dalam lirih.
Gelombang laut pasang, deburan ombak semakin keras. Ada napas saling berkejaran dibawah sinar bulan Purnama yang menggantung. “Man…, dunia kita berbeda, berbeda……” Bisik satu suara indah yang aku kenal melalui angin laut ke telingaku.
Kembali aku duduk memeluk lutut di ujung perahu. Hati galau. Lautpun sepertinya gundah gulana.
“Marni……..”
Kau!
Rumah kuno yang sangat megah. Sungguh, ini adalah seni yang benar-benar tak ternilai. Arsitektur indah, dipehuhi dengan ukiran disetiap sudut atas dan tiang-tiangnya. Sayang sekali begitu terasa sepi dan menyeramkan.
Ih…! Lantai, meja, dan kusinya penuh debu begini, jorok sekali mereka. Apa sih yang Tuan Arnold dan Nyonya Louise lakukan didalam rumah selama ini? Masa untuk mengepel lantaipun mereka tak bisa? Wah…, buku apa ini? Buku tua, tapi menarik juga. Ih…, kotornya buku ini.
“Kau!” Aduh! Judul bukunya kok seperti menunjuk padaku. Hemh…, jadi penasaran. Coba aku lihat isinya, mengapa judulnya harus “Kau”.
Kota Tua, Perancis, 1598. Arnold dan Louise, sepasang suami-isteri yang diusir warga. Warga Kota Tua menyakini bahwa Arnold adalah manusia serigala.
Sakit hati menerima tuduhan warga, Arnold dan Louise mengucapkan sumpah, “Kota ini harus mati!”
Satu-persatu warga dihabisi. Setiap mayat penghuni Kota Tua yang diketemukan selalu dalam keadaan terkoyak. Tak ada seorangpun yang selamat. Kota ini harus mati.
Ih.., gila sekali ini buku. Mengapa aku menjadi merinding begini? Edan! mengapa hatiku jadi tak enak sekarang? Dan.., aduh! Mengapa aku jadi teringat sekarang jika aku belum pernah bertemu tetangga satu orangpun sejak kepindahanku kesini?
“Siapa lagi yang mengetahui rahasia kita, Sayang?” Tuh! Itu pasti suara Tuan Arnold.
“Itu, sayang. Dia yang sedang membaca buku kita”
Dar! Seperti ada sebuah letusan dalam dadaku. Blak! Pintu menutup dengan sendirinya. Halaman terakhir buku baru dapat kubaca, “Akan datang korban berikutnya, kau!”
The Last Werewolf (Manusia Serigala Terakhir)
Alun-alun Kota, Bedburg, Jerman, 1591. Warga kota Bedburg berkumpul untuk menyaksikan kematian si manusia serigala. Semua mata tertuju pada seseorang, Peter Stubbe. “Aaaaaa…. Huwaaaa…. ” Stubbe menahan sakit dalam setiap teriakannya. Wuttt…, tak! Sabetan cambuk kembali dihantarkan pada tubuh Stubbe yang terikat di roda kayu penyiksaan. “Apakah kamu masih tidak mau mengaku?” kembali Jaksa Arnold membentaknya. Stubbe telah kehilangan tenaga, dia sungguh tak berdaya. “Aku tak akan mengaku, aku bukan serigala seperti yang kalian tuduhkan. Aku manusia, seperti kalian,” ucap Stubbe lirih. “Bereskan dia!” perintah Jaksa Arnold pada algojonya. Sret! Cras…! Dengan satu tebasan, kepala Peter Stubbepun terpisah dari badannya. Kepalanya menggelinding kehadapan Jaksa Arnold. “Horeee…! jaksa Arnold mulia, Jaksa Arnold mulia…!” Semua warga bersorak-soray, semua wajah terlihat senang. ”Mulai sekarang, hidup kita damai, tak ada lagi manusia serigala menghantui kita. Tak akan ada nyawa melayang, tak ada pula tubuh yang akan terkoyak. Manusia serigala terakhir telah mati!” Arnold berteriak sambil mengacung-acungkan kepala Stubbe. Darah dari potongan kepala Stubbe mengalir pada tangannya menjalar hingga kedada. Arnold merasakan seperti ada ayang memasuki tubuhnya, dingin…, begitu dingin. “Serigala terakhir…, serigala terakhir…, auuuuuuu….” Satu suara dalam tubuhnya. Arnold kaget, dia mencari asal suara.
They Said My Mom....
“Your mom is death, Timmy,” ayahku bilang. “Your mom not here. She was happy in heaven. She is death!” Begitu pula kata Angela. Benarkah ibuku telah mati? Lalu, siapakah wanita yang selalu memelukku sebelum tidur saat kalian berada dalam kamar kalian? Bukankah kita hanya bertiga di rumah ini? Aku tak percaya pada kalian, affair partner!.
“Honey dear, just trust me. Aku mencintaimu, lebih dari apapun, bahkan nyawaku sendiri. Mereka menginginkanmu, bukan aku”
“Angela, what we do now with Timmy? We also had to remove traces, we must make our infidelity unknown …” kata ayahku suatu hari pada Angela. Jantungku berdegup kencang, aku sangat ketakutan jika mereka mengetahui aku sedang bersembunyi dalam lemari di kamar mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)





