Mencari (cerpen terbagi)



Mencari    ( bagian 1 )



Di satu rumah yang besar dan nyaman …

Seorang laki laki paruh baya duduk termenung di ruang kerja, mata sendu  menatap layar laptopnya. Beberapa hari ini, ada kegelisahan di fikirannya, bukan tentang pekerjaan, rumah tangga, atau dirinya, melainkan tentang seseorang di masa lalu.

Seorang wanita, yang sempat hadir menemani kesepian hatinya. Saat itu, kala dia merasa jenuh dengan pekerjaan, rumah tangga dan semuanya, Sephia telah memberikan semangat, imajinasi dan fantasi baginya.

Hatinya mencari, bathinnya bertanya, Sephia, dimana kamu sekarang, bertahun tahun kita tak pernah berjumpa, dimanakah gerangan kamu sekarang sayang? apakah kau mencariku? apakah kau masih ingat padaku? Seribu pertanyaan tanpa jawaban. Ma’afkan aku Sephia karena telah meninggalkanmu.

Eka menarik napas panjang, kepala menengadah, menatap langit langit ruang. Andai saja, saat itu aku tidak melupakanmu, mungkin saat ini kau masih berada disisiku, walau kau tetap bukan istriku.

Eka memejamkan matanya, lamunan menerawang saat saat indah bersama Sephia. Saat dia mencium bibir ranum Sephia, memeluk tubuhnya, dan meniduri kekasih gelapnya itu.

Sampai saat ini, rahasia asmara Eka dan Sephia masih terkunci, Wita, tidak mengetahui perselingkuhan suaminya. walau dulu Wita sempat curiga, namun Eka berhasil membuat Wita yakin, tidak ada wanita lain selain dia.

Eka mengambil sebatang rokok untuk kesekian kalinya.  Ah Sephia, andai kau lihat, aku sekarang merokok dengan merk rokok kesukaanmu, bahkan cara merokoknyapun sama sepertimu. Aku merindukanmu Sephia. Aku merindukan kehadiranmu.

Sephia, ma’afkan aku, perkataanmu benar saat itu, bahwa aku akan sukses, dan lupa akan dirimu. Aku seperti kacang lupa akan kulitnya, saat aku belum menjadi apa apa, aku bersamamu, aku selalu mengingatmu, hingga aku disibukkan oleh berbagai aktifitas, kemudian mencapai semua impianku sebagai penulis.

Tak ada niat sedikitpun untuk melupakanmu, aku memang bodoh, terbawa oleh derasnya arus pekerjaanku yang begitu menyita waktu. Sekali lagi ma’afkan aku Sephiaku. Sungguh, aku tersiksa karena memendam rindu padamu.






Mencari ( bagian 2 )



Duduk, di ruang tamu sebuah rumah yang sangat sederhana …

Sephia, wanita paruh baya sedang membaca beberapa artikel  surat kabar.  Begitulah kebiasaan wanita itu dari dulu, mengumpulkan artikel yang ditulis oleh seseorang. Seseorang yang pernah dikenalnya.

Setiap hari, tak bosan dia membaca surat kabar ataupun majalah. Rak bukunya telah penuh dengan majalah serta buku buku yang didalamnya memuat satu buah nama,  Restu Eka Baratha.

Matanya berlinang, saat didapatinya photo Eka di artikel bulan ini. Sudah tua kaupun rupanya sayang, sama seperti aku, kulit wajahkupun mulai keriput, kamu pasti enggan melihatku.

Kamu tahu sayang, bertahun tahun, aku mencarimu, aku memperhatikanmu. Aku bahagia, karena aku selalu melihatmu. Beruntung aku bisa mendapatimu dalam artikel artikel ini. Aku tak berani menemuimu sayang, karena aku tahu diri, siapa aku, dan siapa kamu sekarang.

Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu, Aku tidak mau namamu tercoreng oleh kehadiranku. Kamu harus menjaga nama baik dalam komunitasmu sebagai penulis. Anggap saja aku impian seharimu, pelepas  lelah dari pekerjaanmu.

Sayang, bahagianya dirimu sekarang, kesuksesan telah kamu raih, nama besarmu telah kamu sandang. Aku hanya dapat berdo’a, semoga kamu tetap mengingatku.

Ketahuilah sayang, sampai akhir hayatku, aku tidak akan pernah melupakanmu, aku akan selalu mencarimu dalam artikel artikelmu.

Tangan Sephia gemetar, badan berguncang, Sephia tak lagi dapat menahan tangisnya. Di ruang tamu, Sephia menangisi kekasihnya.





 Mencari ( bagian 3 )



Satu pagi di akhir Desember …

Seperti biasa, Eka mengendarai mobilnya menuju kantor redaksi. Hari ini Eka sangat bersemangat pergi ke tempat kerjanya, beberapa hari kemarin dia ogah ogahan bekerja. 

Saat dirumah tadi saja, Wita sempat keheranan melihat perubahan dirinya. Eka hanya tersenyum ketika Wita bertanya ada apa.

Lagu lawas menemani perjalanan Eka, lagu kenangan yang mengingatkan Eka pada Sephia. Ini adalah kali ketiga lagu itu diputar, dan Eka belum merasa bosan.  Sembari menyetir dia ikuti syair lagu, sesekali dia bersiul, masih mengikuti nada lagu.

Mungkin karena terbawa situasi romantis dalam mobilnya, atau karena pikirannya yang melayang pada kekasihnya, Eka tidak melihat ada seorang wanita separuh baya tengah menyebrangi jalan.

ciiiiiiiiiiiittttt ……!!!

Sigap, rem spontan diinjak, ada sesosok tubuh wanita yang kini tergeletak tepat berada didepan mobilnya. Cepat dia membuka pintu dan keluar dari mobil.

Eka sangat terkejut dengan apa yang ada dilihatnya sekarang, dia tidak bisa mempercayai kenyataan yang ada dihadapannya sekarang.

Eka memelototi wanita yang  terlihat pucat itu.

Sephia? kaukah itu? benarkah itu kamu?, Ya Tuhan, bukankah kamu Sephia?”

 Wanita itu memandanginya, kini wajahnya bertambah pucat pasi, bukan karena terkaget hampir menjadi korban kecelakaan, tapi karena dia menemukan seseorang yang dirindukannya.

Eka, kaukah itu?”

 Tatapan yang sama seperti dulu dari mata indah Sephia, tatapan Sephia, yang membuat Eka betah berlama lama menatapnya.








Hadiah Natal, 2010