Senyuman tersungging di bibir Bimo, begitu pula dengan Arini, dia merasa hari ini jauh lebih indah dari sebelumnya. Tak salah ibu dan bapak Arini menerima pinangan keluarga Bimo, walau sebenarnya, Arini belum sempat mengenal Bimo.
Di atas ranjang jati berkasur empuk, mereka merenggangkan otot yang tadi sempat menegang. Nampak raut kelelahan disana, semalaman ini mereka bergelut dalam peluh.
Aroma harum melati masih menyeruak di kamar itu, bukan dari bunga dalam pajangan, namun dari hati mereka yang kini berbahagia. Kelambu putih, turut memperindah suasana.
“Bahagianya aku mas, aku bisa menjadi istrimu,” ujar Arini dalam pelukan Bimo.
“Begitu jua aku dik, beribu rasa tak menentu dalam hatiku, Ah andai kau tau dik, jantungku berdegup kencang saat melihatmu memakai baju pengantin tadi siang, sempat aku tak percaya dengan mataku, benarkah ini calon istriku? Tadinya aku mau lari saja dik … ,” ujar Bimo, dengan tangan tak henti mengusap rambut istrinya.
Arini mendongkakkan kepala, menatap tajam pada suaminya.
“Loh, kenapa mas mau lari? mas, sebenarnya tidak menerima perjodohan kita ya?,” nada suara Arini mulai meninggi.
“Bukan dik, mas hanya tak percaya, kalo mas yang seperti ini, dapat bersanding dengan seorang gadis yang wajahnya bak putri dari keraton, itu saja kok, hahahaha,” gelak tawa Bimo menggema dalam ruangan.
Arini menghadiahi Bimo beberapa kali cubitan kecil di perutnya. Aksi cubit Arini terhenti, saat Bimo menyerangnya dengan pelukan dan ciuman bertubi tubi.
Klik! lampupun dimatikan oleh Bimo. Bibir saling berpagutan, tanganpun saling menjamah. Ah, bahagianya pengantin baru ini.
Arini tidak mengetahui, ada kegelisahan di hati terdalam Bimo saat itu. Bimo memikirkan seseorang nun jauh di kota. Tentu bukan Arini.
- o -
Pagi benar Arini ke luar rumah, dia hendak membeli sayuran dan beberapa perlengkapan di rumah. Sepeda ontel dikayuhnya semakin cepat, Arini harus segera tiba kembali sebelum dzuhur untuk memeluk suaminya. Ah, gatal sekali pengantin baru ini.
Wajah Arini bersinar saat dia bertemu sahabatnya di tengah perjalanan. Lama dia tak jumpa dengan gadis itu. Purwanti adalah sahabat Arini semasa sekolah dulu. Kepindahan Purwanti ke kota, telah memisahkan hubungan kedekatan mereka.
Purwanti melanjutkan kuliah di ibukota, sedang Arini, selepas SMA dulu, hanya mengikuti sebuah kursus keterampilan. Walau mereka terpisah, mereka tetap saling merindukan. Begitulah mungkin arti persahabatan. Jarak dan waktu tidak akan memisahkan sebuah persahabatan.
Arini menurut saja saat Purwanti mengajaknya singgah.
“Arini, aku baru tiba dari kota kemarin, ku dengar kau telah menikah sobat?,” tanya Purwanti sambil digandengnya Arini masuk ke dalam rumahnya.
“Iya aku sudah menjadi istri orang sekarang, dan kamu mungkin tidak percaya. aku menikah dengan Mas Bimo, mantan kekasihmu sewaktu sekolah dulu, kami dijodohkan orang tua kami, dan keluarga mas Bimo sangat memaksa, agar bapak dan ibu menerima perjodohan kami” jawab Arini sambil tersipu.
“Oh ya? Benarkah itu? Ya Tuhan, aku tak tahu kalau kau dapat berjodoh dengannya. Pantas, mendengar kau berpacaran dengannyapun tidak Arini. Bagaimana bisa kau sembunyikan itu dari aku?,” Purwanti terlihat sedikit kaget, tidak percaya . Wajahnya terlihat kurang senang. Membuat Arini menjadi tak enak hati.
“Emh, bukan, bukan begitu. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu sobat, hanya saja semuanya berjalan begitu cepat, baru satu minggu kami dipertemukan, keluarganya sudah datang tuk meminangku.”
“Ah, sungguh beruntung kau Arini, dulu aku begitu mencintainya, bahkan sampai saat ini aku mungkin masih mencintainya, apalah daya Arini, keluarganya tak suka padaku. Kau beruntung Arini, kau gadis paling beruntung! selamat ya!,” sebuah ciuman tulus, mendarat di pipi Arini.
Arini merasa sedikit terhibur setelah tadi merasa tak enak hati, hanya saja kata kata Purwanti yang mengatakan jika sampai saat ini dia masih mencintai suaminya, agak mengganjal fikirannya.
- 0 -
Semilir angin menyibak pepohonan di sekitar rumah tinggal Arini dan Bimo. Lembayung senja menyapa, dandanan alampun kian elok. Di beranda rumah kayu mereka, Arini dan Bimo duduk berdampingan beralaskan tikar. Satu cangkir kopi hitam, teh manis hangat menemani kemesraan mereka.
Petang beranjak, malampun mulai pekat. Sesekali, suara jangkrik dan cicak bersahutan. Sepi memang, karena rumah mereka tidak berdekatan jaraknya dengan tetangga. Sungguh membosankan bagi Bimo, apalagi
dengan fikirannya yang selalu menuju pada seseorang di kota.
Masuklah Bimo ke dalam kamar, dilihatnya Arini yang mulai terlelap. Dia hanya memakai selembar kain samping. Ah, Arini, kenapa kau siksa aku.
Bimo naik ke atas ranjang, membuat deritan kecil pada ranjang yang terbuat dari jati itu. Arini membuka matanya, mungkin, deritan itu membuatnya terbangun kembali.
Tangan Arini memeluk tubuh suaminya, badannya digeser, ditempelkan pada tubuh suaminya.
Klik !! ah, mati lampu. Terpaksa Arini beranjak dari kamar untuk menyalakan lilin.ada ada saja gangguan malam ini.
Lilin telah diatas meja dalam kamar. Penuh senyuman, Arini kembali menaiki ranjang. Bimo mengerti apa keinginan Arini, walau sebenarnya enggan, Bimopun melucuti pakaiannya.
Dalam remang, dalam liuknya bayangan lilin yang tertiup angin kecil, Arini melihat jelas ada tanda lahir di dada kanan suaminya.
- o -
Tok, tok, tok … pintu depan terdengar ada yang mengetuk. Arini segera menuju pintu.
“Selamat pagi mbak, mas Bimo-nya ada?,” sapa si tamu.
“ Oh ada, sebentar, saya panggilkan, mas ini siapa dan darimana ya? biar saya sampaikan,” Tanya Arini sambil mempersilahkan masuk.
“Saya Doni mbak, saya teman Bimo dari kota,” Jawab si tamu sambil kemudian duduk di kursi nan empuk.
Tanpa memperlambat waktu, Arini segera membangunkan suaminya yang masih terlelap.
Bimo terperanjat saat Arini mengatakan siapa yang mencarinya. Badannya sontak berdiri, dan segera keluar kamar tuk menemui tamunya itu. Arini terkaget melihat reaksi suaminya, ada urusan apa kiranya, hingga suaminya bertingkah seperti itu.
Arini memperhatikan mereka yang sedang berbincang di ruang tamu, ada pembicaraan serius diantara mereka. wajah Doni terlihat sangat kecut, tidak seperti saat tadi berbicara dengannya.
Sayang, pembicaraan mereka tak dapat didengar. Walau telinga telah dikembangkan, mereka berbicara hampir tiada suara.
”Dik, aku harus pergi ke kota sekarang, mungkin untuk satu minggu, ada kepentingan yang harus diselesaikan disana.”
Bimo berlalu, menuju kamar dan mengepak beberapa helai baju ke dalam tas. Arini mengikuti suaminya.
“Mas, ada urusan apakah gerangan, hingga mas harus tergesa seperti ini?,” mata Arini tak henti memperhatikan Bimo yang sibuk memasukkan barang ke dalam tasnya.
Bimo diam dan tertegun, ada sesuatu yang ingin dikatakannya, namun sepertinya, dia urung berkata. Bimo kembali mengepak tasnya. Arini hanya terdiam, dan mengecup kening suaminya saat suaminya pergi bergandengan tangan bersama lelaki yang baru di temuinya pagi ini.
- o -
Belumlah satu minggu, Bimo telah kembali, wajahnya berbinar binar, saat Arini membuka pintu,.
“mas, cepat sekali kau datang, baru tiga hari mas sudah kembali, adakah kerinduan dihatimu mas?,” ujar Arini bergelayut manja.
Bimo terlihat kikuk saat Arini, memeluk dan menciuminya. Hanya saja Bimo memang pandai menguasai diri, dia segera menepis kebingungannya. Arini tak menyadari jika mata Bimo, tak ingin beradu pandang dengannya.
“Ehem, tentu saja Arini, siapa yang tak rindu pada istrinya?,” ada keraguan dalam nada bicara Bimo, dia terlihat kaku, tak seperti Bimo sebelum tiga hari lalu.
Suasana sore ini elok sekali, bak seorang penari yang sedang melebarkan selendang kuningnya. Awan bergerak, angin meliuk–liukan tubuhnya. Genit.
Alam raya mulai padam, senja tlah berganti malam.
Di dalam kamar, pengantin baru sedang bermasyuk, melunasi utang kerinduan. Gairah disebar, gelorapun di semai.
Teringat Arini akan kebiasaan suaminya, matikan lampu saat akan bersenggama. Klik! lampu dimatikan.
“Arini, nyalakan saja lampunya, kenapa harus dimatikan? apa yang dapat kita perbuat jika lampu dimatikan?,” setengah memohon Bimo memberikan perintah pada istrinya.
Arini tersenyum, dan, klik! menyala-lah kembali si lampu.
Arini kini, telah dipeluk oleh laki laki yang bertelanjang dada.
Dada? hey, kemanakah tanda lahir di dada sebelah kananmu mas?.
Ah, Arini terlalu asyik bermasyuk, hingga lupa bertanya pergi kemana tanda lahir itu.
“Mas, kenapa sejak pulang dari kota, mas panggil langsung namaku? bukankah biasanya mas panggil aku dengan dik?,” tanya Arini setelah mereka menunaikan gairah berdua.
Bimo terlihat bingung menjawab, namun sejurus kemudian, Bimo telah menempatkan kepala Arini di dadanya. Terlelaplah Arini dalam belaian suaminya.
- o -
Waktu terus berjalan, hari demi hari dilalui dengan keindahan, kini ada jabang bayi di perut Arini. Usia kandungan Arini telah genap empat bulan.
Syukuran atas kehamilan Arini dilaksanakan, mereka menggelar hajatan. Para sanak, saudara, tetangga dan sesepuh kampung turut gembira mendengar berita, Arini akan memiliki putra.
Bimo terlihat tidak begitu gembira, entah apa yang difikirkannya padahal sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
Stop! fikiran Bimo terhenti saat dia sadar, benarkah aku ayahnya yang sah? Sebagai ayah, mungkin itu benar, aku adalah ayah dari si jabang bayi. Sebagai suami, benarkah aku ini suami Arini? ah.
Apa yang difikirkan Bimo, terkoyak oleh kesibukannya menyalami orang orang yang terus berdatangan.
Ayah dan Ibu Bimo, yang duduk di sudut ruangan, menatap tajam. Mata Bimo menyadari, ada dua pasang mata sedang memperhatikannya. Bimo melirik, dan seketika hatinya bergetar,
“Ayah, Ibu, jangan tatap aku, aku menjadi merasa sangat bersalah!, jangan katakan rahasia ini pada mereka, apalagi pada Arini, karena aku mulai mencintainya.”
- o -
Purwanti, kini telah kembali di kota. Dia tinggalkan kenangan tentang Bimo. Menjalani hidup, tanpa harus lelah mengejar Bimo.
Purwanti masuk ke dalam café. Terhenyak dia saat melihat sepasang lelaki tengah asyik mengumbar kemesraan. Mungkin jika bukan sepasang lelaki Purwanti akan memandang wajar.
Dan jika itu orang lain, mungkin juga Purwanti tidak akan sekaget itu. Tapi, salah satu lelaki yang sedang asyik saling berpagutan bibir itu, Purwanti kenal sekali. Dia suami Arini.
- o -
- Kini, jabang bayi di perut Arini berusia tujuh bulan, Sebentar lagi Arini dan Bimo, akan melaksanakan upacara adat, dimandikan dengan air kembang. Kata pemimpin adat, kain samping yang dipakai haruslah tujuh helai, dan ini baru enam.
Arini membuka lemari pakaian, dicarinya kain samping satu helai lagi, dikeluarkan semua isi lemari. Hingga, pluk! satu buah kotak kecil sebesar dompet terjatuh karena susunan pakaian dikeluarkan semua.
Dibukanya kotak itu, isinya, beberapa buah photo anak kecil yang kembar, dibalik salah satu photo itu tertulis, Bimo - Yudhistira, mereka kembar seperti tubuh dan bayangan.
Tangan Arini , bergetar matanya menatap kedua anak kecil dalam photo. Jelas terlihat. yang satu memiliki tanda lahir di dada kanannya, dan satunya lagi, mulus tanpa tanda.
Photo terlepas dari genggaman, dan Arini kebingungan. Badannya bergetar, hampir tak sadarkan diri.
lalu, bayangan siapa yang telah setubuhi aku?