Pagi pagi sekali Lucida telah terbangun, dia sedang menikmati secangkir kopi moccacino. Kelihatannya, dia rilex sekali, padahal semalam, Lucida tersiksa karena matanya sulit untuk di ajak terpejam.
Pandangan mata lucida jauh menatap pada rumah tua yang berada tepat di depan villanya. Jelas tentu kelihatannya keadaan di luar rumah itu, karena hanya terhalang oleh danau kecil tanpa pohon pohon rindang yang menghalanginya.
Lucida merasa, ada yang aneh dengan keadaan rumah itu, sangat sangat berbeda keadaannya pada hari ini. Sungguh ,tak seperti biasanya.
Setiap pagi, Lucida selalu dapat melihat seorang anak laki laki, berusia sekitar 3atau 4 tahun, berlari larian , bersepeda di halaman rumah itu. Khas dengan gelak tawanya. Anak yang manis. Cukup untuk mencuri perhatiannya.
Jujur saja, sehari tanpa melihat anak itu, seperti ada yang belum lengkap bagi dia untuk memulai hari. Yah, seperti hari ini. Anak itu tidak ada di halaman rumahnya. Kemana dia, apakah dia sakit?... Lucida bertanya dalam hati, matanya tetap mencari cari, matanya terhenti mencari , sesaat setelah dia melihat kibaran bendera kuning yang ada di depan rumah itu.
Ada apakah gerangan? Apa yang terjadi disana?
… YA TUHAN,,, ada keranda disana, dan ibu dari anak itu terlihat menangis ,,,
apakah anak itu telah tiada?...........
Kini,rumah itu telah kehilangan keceriaannya…….
Sayang sekali.